Author: Admin-1

VIVA – Gempa bumi berkekuatan 5,6 SR mengguncang Barat Daya Padang Sidempuan Sumatera Utara, Kamis, 1 Maret 2018, sekira pukul 10.17 WIB.

Laporan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Gempa ini berpusat di laut, tepatnya 82 kilometer Barat Daya Padang Sidempuan.

 Belum ada laporan kerusakan akibat bencana ini.

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT — Penganiayaan terjadi pada Uyun Ruhiyan (57 tahun) yang sehari-hari bekerja sebagai marbot di Masjid Agung Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Warga Kampung Kaum Desa/ Kecamatan Pameungpeuk itu mengalami pembacokan orang tak dikenal, Rabu (28/2).

Ia menceritakan penganiayaan terjadi pada Rabu dini hari sekitar pukul 03.30 WIB. Mulanya ia berniat membangunkan warga yang hendak beribadah shalat subuh di Masjid Istiqomah (Masjid Agung Kecamatan Pameungpeuk).

“Ketika saya akan membangunkan warga lewat pengeras suara, tiba-tiba saja kabel mik ada yang merebut sambil membentak saya, Kamu berbohong kepada saya!. Begitu katanya,” kata Uyun pada wartawan, Rabu (28/2).

Usai percakapan itu, korban langsung dikeroyok kelima orang tak dikenal. Tiga orang mengikat tangan korban menggunakan kain mukena yang terdapat di dalam masjid dan menyumpal mulut Uyun supaya tidak bisa berteriak.

Satu orang lagi membacokkan samurai ke kepala Uyun. Adapun pelaku satunya lagi menusukkan pisau ke perut Uyun. Alhasil korban pun tak sadarkan diri setelah mendapat penganiayaan. Korban baru sadar ketika memperoleh perawatan di ruang UGD Puskesmas Pameungpeuk.

Ia menyebut kelima orang tidak dikenal itu menghampiri dengan membawa senjata tajam berupa pisau, samurai dan sabit. Walau berbekal senjata itu, ternyata korban tidak terluka sedikit pun. “Alhamdulilah tidak luka,” syukurnya.

Sementara itu, peristiwa penganiayaan pertama kali diketahui oleh rekan korban, Agus. Agus heran karena sudah pukul empat pagi tapi Uyan tidak membangunkan warga. Agus menaruh rasa curiga, apalagi lampu di dalam masjid tidak menyala.

“Ah, barang kali Kang Uyan ketiduran. Tapi ketika lampu senter saya nyalakan, saya lihat korban dalam keadaan terlentang dalam kondisi tangan terikat dan mulut disumbat. Setelah lampu listrik saya nyalakan, benar juga, korban sudah tidak berdaya, dengan keadaan kopiah dan baju robek. Tapi, alhamdulilah anggota badanya tidak apa-apa,” itu berkat pertolongan Alloh, ujarnya.

Sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian.

Jakarta – Besok, Rabu (28/2/2018) menjadi batas akhir dari kewajiban registrasi SIM card prabayar, setelah program ini dijalankan sejak 31 Oktober 2017. Pemerintah telah menegaskan, masa registrasi ini tidak akan diperpanjang.
Meski demikian, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menyebutkan bahwa masyarakat masih diberi kesempatan bila tetap ingin mendaftarkan nomor seluler prabayarnya setelah lewat 28 Februari.
“Tanggal 28 Februari adalah batas akhir registrasi ulang. Namun, ada masa tenggang 30 hari,” kata Komisoner BRTI I Ketut Prihadi Kresna.
Selama masa tenggang, layanan tetap normal. Nah, setelah 30 hari berlalu, akan dilakukan pemblokiran layanan outgoing call (layanan panggilan keluar) dan outgoing SMS (layanan pesan singkat keluar) pada tanggal 30 Maret.
Kemudian setelahnya, akan dilanjutkan pemblokiran incoming call (layanan panggilan masuk) dan incoming SMS (layanan pesan singkat masuk), jika pelanggan tidak melakukan registrasi ulang paling lambat 15 hari kemudian.

Lalu, pemblokiran layanan data internet akan dirasakan pelanggan, apabila tidak melakukan registrasi ulang paling lambat 15 hari kelender yang terhitung sejak pemblokiran layanan incoming call dan incoming SMS. Dengan demikian, SIM Card bisa dikatakan tidak lagi berfungsi.

Untuk jadi perhatian, selama masa pemblokiran tersebut, pelanggan masih bisa registrasi kartu seluler prabayar miliknya, baik itu dilakukan melalui SMS ke nomor 4444 maupun website.

Pelanggan juga dapat melakukan registrasi dengan mendatangi gerai masing-masing operator seluler. Persyaratannya sama, menyertakan informasi NIK dan KK, tetapi tidak perlu mengungkapkan nama ibu kandung yang dinilai riskan untuk dibeberkan.

VIVA – Empat tersangka penyelundupan narkotika jenis sabu 1,6 ton ke Kepulauan Riau, Indonesia, beberapa waktu lalu, ternyata masih memiliki hubungan keluarga. Hal ini diketahui usai penyidik memeriksa para tersangka.

“Sampai dengan hari ini, perkembangan kasus ini sudah dilakukan pemeriksaan keempat tersangka, baik nakhoda maupun ABK dan teknisi. Ini mereka masih (memiliki hubungan) keluarga dan tetangga,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Daniyanto di kantor Dittipid Narkoba Bareskrim Polri, Cawang, Jakarta Timur, Selasa, 27 Februari 2018.

Kata Eko, dari pengakuan sementara, para tersangka tidak mengetahui barang yang dibawa di kapal ikan berbendera Singapura tersebut. Mereka hanya disuruh seseorang berinisial L dari negara China untuk berlayar ke Indonesia.

“Pengakuan sementara para tersangka, dia dikendalikan L dan tidak mengetahui isi barang,” katanya.

Akan tetapi, menurut Eko, secara logika sebuah kapal ikan harus membawa 10 ABK (anak buah kapal). Akan tetapi, saat ditemukan kapal ikan ini hanya berisi tiga ABK dan satu nakhoda.

“Secara logika, kapal ikan seyogyanya ada 10 ABK. Logika saja, (hanya) empat orang, harus ada 10 orang ABK untuk lepas jaring,” ujar Eko.

Dalam kasus sabu 1,6 ton, polisi mengamankan empat orang tersangka asal China. Mereka adalah Tan Mai (69), Tan Yi (33), Tan Hui (43) yang merupakan nakhoda kapal, dan Liu Yin Hua (63).

Para pelaku dan barang bukti sabu telah dibawa ke Jakarta. Pelaku juga sudah dijebloskan ke dalam penjara di Rutan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri. Polisi terus mendalami penyidikan ini, termasuk munculnya nama L yang diungkap oleh salah satu pelaku Tan Mai.

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK — Gempa yang mengguncang Barat Daya Kabupaten Lebak merenggut korban jiwa. Keterangan Kepala Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak, Aan mengatakan, korban meninggal dunia atas nama Nana berusia 40 tahun diakibatkan tidak dapat menyelamatkan diri saat reruntuhan rumahnya ambruk oleh gempa.

Aan menjelaskan, selain telah merenggut korban jiwa, setidaknya ada dua korban luka lainnya. Korban pertama adalah Ade 29 tahun yang mengalami luka bakar akibat terkena sengatan listrik sehingga mengalami luka bakar. Sedangkan, ibu Ulum berusia 62 tahun mengalami patah tulang.
 “Keduanya sudah berhasil dievakuasi dan mendapat penanganan medis,” jelas dia.
 Sedangkan untuk jasad Nana sendiri sudah dievakuasi dari reruntuhan dan segera dimakamkan.
 Untuk data rumah rusak dan bangunan, Tagana mencatat sekitar 1.140 yang terdata untuk sementara dengan kerusakan beragam. Salah satu kerusakan terparah ada di Kecamatan Malingping dengan 518 rumah rusak ringan dan 31 rumah rusak berat.
 Total keseluruhan bangunan yang rusak ringan, yakni 984 bangunan dan bangunan dengan kategori rusak berat di angka 156 bangunan.